Kehidupan Bantar Gebang, Pemukiman Masyarakat di Sekitaran Gunung Sampah Oleh: Dwi Mochammad Geo Sw Mahasiswa Fakultas Departemen Ekonomi UNAND

OPINI79 Dilihat

Andalas Time,Padang – Bantar Gebang, mungkin kita Sebagian kita yang berada disumatera sedikit asing mendengar nama tersebut, Bantar gebang merupakan tempat pembuangan akhir yang berada di sebuah kecamatan di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan ini dikenal sebagai tempat pengelolaan sampah terpadu yang terbesar di Indonesia, dengan volume sampah yang masuk mencapai ribuan ton per hari. Bantar gebang sendiri menampung seluruh sampah atau limbah dari DKI Jakarta yang telah beroperasi sejak tahun 1985. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar gunung sampah Bantar Gebang dan bagaimana masalah kependudukan dan lingkungan mempengaruhi kehidupan mereka.

*Kepadatan Penduduk dan Kemiskinan*

Kepadatan penduduk di Bantar Gebang juga tinggi, kecamatan bantar gebang dengan luas 18,44 km menurut data sensus penduduk tahun 2020 mencatat ada 107.216 orang yang tinggal di kecamatan bantar gebang. Sebagian besar dari mereka berkerja sebagai pemulung dan tinggal disekitaran gunung sampah tersebut, Penduduk yang bermukim di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Bantar gebang, secara resmi ada sekitar 6.000 orang, namun warga setempat meyakini jumlah dilapangan jauh lebih banyak. mereka mengais rezeki dari mengumpulkan dan memilah sampah yang dapat dijual dan beberapa mereka juga ada yang membuka warung di atas gunung sampah itu sebagai tempat beristirahat para pemulung di Kawasan TPST tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Kementerian Sosial telah memberikan bantuan sembako tambahan kepada warga setempat. Meski kondisi lingkungan tidak sedap, semangat warga tidak menyurutkan dalam memberikan bantuan kepada masyarakat.

*Kulialitas Kehidupan Masyarakat*

Pemukiman kumuh di sekitar TPST Bantar Gebang telah menjadi suatu kesatuan lingkungan pemukiman tertentu yang terletak di kota besar tersebut. Mereka terdiri dari golongan ekonomi lemah dan memiliki kondisi fisik, ekonomi, dan fasilitas sosial yang kurang. Kualitas kehidupan masyarakat di sekitaran Bantar Gebang bisa di katakan tidak layak untuk di huni, masyarakat yang tinggal di sekitaran TPST beberapa diantara mereka telah ada yang mengalami berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit kulit, gatal-gatal, dan diare, yang disebabkan oleh bahan kimia, sinar matahari, virus, imun tubuh yang lemah, mikroorganisme, dan jamur. Menurut data Puskesmas Kecamatan Bantar Gebang tahun 2017, penyakit kulit termasuk 5 penyakit terbanyak, sebanyak 2.537 kasus baru.

*Kesimpulan*

Kehidupan masyarakat di sekitar gunung sampah Bantar Gebang sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kepadatan penduduk yang tinggi, kemiskinan, dan kondisi lingkungan yang kurang baik dapat mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Namun, kerasnya kehidupan di kota besar membuat mereka banting stir dan memilih hidup di sekitaran bantar gebang untuk terus hidup, sebagaian dari mereka beranggapan bekerja sebagai pemulung penghasilannya lumayan dan sebanding dengan apa yang mereka kerjakan tidak seperti kehidupan di kota kota. oleh karena itu perlu adanya relokasi oleh pemerintah guna memeratakan dan mensejahterakan kehidupan masyarakat yang terdampak di sekitaran bantar gebang dan juga dengan bantuan sementara yang ditetapkan oleh pemerintah serta upaya-upaya lainnya, masyarakat di sekitar TPST Bantar Gebang dapat terus beradaptasi dengan lingkungan yang keras dan meningkatkan kualitas hidup mereka.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *