free stats

Kisah Sipenjual Buah-Buahan

Padang,AT– Selepas Sholat Ashar di salah satu masjid,tidak seperti biasanya aku kepingin makan buah yang dijual oleh seorang bapak paruh baya yang kebetulan mangkal disana.Aku pikir bapak itu juga habis sholat Ashar di mesjid itu juga.
Setelah aku ambil sepotong nanas,dan sambil makan aku iseng bertanya (iseng adalah kebiasaan saya,hee…) tentang berapa penghasilannya dalam sehari berjualan buah ini.
Sambil setengah mengeluh bapak itu menjawab,” Kalau akhir-akhir ini penjualannya agak merosot tidak seperti biasanya,dalam sehari dapat paling banyak Rp.200.000″,ujarnya.
Nah,mungkin ini yg menarik dari perbincanganku dengan bapak penjual buah ini setelah aku bertanya bagaimana bapak bisa menjalani hidup ini dengan tenang tanpa terlihat ada beban,meskipun hari-harinya berat.
Dia menjawab,kita harus banyak bersyukur atas rezki yang kita terima dariNya.Dan yang lebih penting yang kita peroleh itu halal..Lalu bapak itu bercerita tentang seorang kawannya yang juga penjual buah,bahwa kawannya itu pernah diberi sejumlah uang oleh seorang Caleg dengan harapan penjual buah itu mau memilihnya pada saat pemilihan nanti.
Dengan spontan penjual buah itu mengembalikan uang sang Caleg sambil minta maaf dengan alasan kalau dirinya tidak sanggup mempertanggung jawabkan nya nanti.
“Ya…” kalau bapak menang nanti,kalau bapak tidak menang terus saya telah menerima uang bapak,kan saya berhutang jadinya sama bapak”,kata bapak itu menirukan cerita temannya itu..
Dalam hati saya berkata,pasti sang caleg itu merasa bingung dan juga malu.Bingung kok ada orang dikasih uang gak mau,malu karna tidak berhasil merayu seorang yang hanya penjual buah.
Mungkin di zaman ini hanya temannya bapak penjual buah tadi lah satu-satunya orang yang dengan kepolosannya mau menolak sesuatu yang dia merasa itu bukan hak nya,mungkin banyak yg bilang bapak itu bodoh,sok suci atau apalah,tapi saya pribadi berpendapat seribu jempol buat bapak itu,meskipun jempol ku cuma ada dua.(jempol kaki gak masuk ya)
Kembali ke penjual buah utama kita,lalu aku ambil sepotong nanas lagi sambil iseng kembali bertanya,bagaimana kalau bapak yang dikasih uang sama caleg tadi…?
Bapak itu menjawab,”mudah-mudahan sudah tidak ada lagi caleg-caleg yangg melakukan hal seperti tadi,dan seandainya masih ada,semoga gak ketemu sama saya”,ujar bapak penjual buah sambil tertawa..
NB : Narasi Danil Yolanda



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *